Kisah Aneh Tapi Nyata: Bagaimana Satu Gol Di Piala Dunia Membuat Ahn Jung-Hwan Jadi Ikon Korea Selatan – Dan Membuatnya Dipecat Perugia

Bagaimana Satu Gol Di Piala Dunia Membuat Ahn Jung-Hwan Jadi Ikon Korea Selatan - Dan Membuatnya Dipecat Perugia
Bagaimana Satu Gol Di Piala Dunia Membuat Ahn Jung-Hwan Jadi Ikon Korea Selatan - Dan Membuatnya Dipecat Perugia

Nagaliga.news – Gol kontroversial sang penyerang di babak perpanjangan waktu membuatnya menjadi pahlawan nasional, namun itu tidak diterima dengan baik oleh klubnya.

Piala Dunia 2002 diwarnai kejutan demi kejutan yang tiada habisnya. Pertama kalinya diadakan di Asia, Korea Selatan dan Jepang membuka pintunya untuk dunia dan mengundang tim mapan seperti ‘Generasi Emas’ Inggris, pasukan Brasil yang jago racikan Luiz Felipe Scolari dan juara dunia Prancis, yang entah bagaimana finis di posisi terbawah grup mereka.

Read More

Korea Selatan dan Turki, bagaimanapun, mencuri berita utama sebagai sepasang kuda hitam yang mengintip tiket ke final. Dalam hal ini, nama pertama dikalahkan 1-0 oleh Jerman di semi-final – selagi Turki kalah melawan Brasil – tetapi tuan rumah mencatatkan laju luar biasa yang membuat mereka mengalahkan Portugal dan Amerika Serikat untuk memuncaki Grup D, sebelum mengalahkan Italia di babak 16 besar.

Di saat itu, pertandingan tersebut menghasilkan salah satu kisah yang paling sulit dipercaya dalam sejarah sepakbola papan atas, ketika Perugia – seperti dijelaskan oleh The Guardian – ‘memecat’ pahlawan kemenangan Korea, Ahn Jung-hwan, karena perannya dalam tersingkirnya Azzurri di tengah pusaran kontroversi dan tuduhan.

Ahn Jung-hwan Perugia 2001

Perjuangan Serie A

Berlatar belakang keluarga kurang mampu, Ahn awalnya memilih sepakbola karena klub lokalnya menawarkan roti dan susu kepada para pemain, dan penyerang Korea ini memulai karier profesionalnya di Busan Daewoo Royals. Pada 1999, ia memenangkan penghargaan Most Valuable Player (MVP) di K-League, menjadi pemain pertama yang meraihnya dari tim yang tidak memenangkan gelar, sebelum kemudian dipinjamkan ke Perugia pada 2000.

Ahn mengalami kesulitan di Serie A; dia dianggap terlalu kurus, terlalu mudah melepaskan bola, dan tidak cukup klinis. Dia hanya mencetak lima gol dalam dua musim secara total, dan semuanya tidak berjalan baik di ruang ganti.

Setelah pensiun Ahn mengungkapkan bahwa dia menjadi sasaran pelecehan rasis yang dilakukan oleh bek veteran Marco Materazzi, yang menuduhnya “berbau seperti bawang putih”. Bawang putih adalah bahan umum dalam makanan Korea, tapi Ahn sangat terganggu dengan pernyataan tersebut sehingga dia berhenti memakannya sama sekali.

Di akhir masa pinjamannya selama dua tahun, Perugia memiliki opsi untuk memperpanjang masa tinggal Ahn, atau bahkan membelinya secara permanen. Namun, hal tersebut tidak terjadi sebagaimana ia pulang ke negaranya untuk mengikuti Piala Dunia.

Pemanggilan Mengejutkan

Setelah mengukir debut internasionalnya pada 1997, Ahn melewatkan Piala Dunia 1998 dan berjuang untuk masuk ke dalam skuad secara konsisten. Penampilannya tampak tidak cukup bagus untuk dipanggil ke skuad Korea Selatan di Piala Dunia 2002, namun pelatih Guus Hiddink tetap percaya.

Sebelum turnamen di kampung halamannya, Ahn hanya mencetak tiga gol internasional, namun Hiddink melihat cukup banyak hal untuk percaya bahwa ia dapat memberikan ancaman yang signifikan, seperti kemampuannya menahan bola. Sang penyerang ingat bahwa Hiddink mengatakan kepadanya bahwa turnamen tersebut akan “mengubah hidupnya”.

Ahn Jung-hwan South Korea 2002

Curi Perhatian

Di grup sulit bersama Polandia, AS, dan Portugal, Korea Selatan keluar sebagai pemuncak, mengalahkan lawan mereka dari Eropa dan bermain imbang dengan Amerika. Ahn mencetak satu-satunya gol dalam matchday terakhir babak grup melawan USMNT, yang kemudian meyakinkan Hiddink untuk menjadikannya starter di lini depan melawan Italia di babak sistem gugur.

Sementara itu, Azzurri memiliki pemain-pemain berpengalaman seperti Paolo Maldini, Gianluca Zambrotta dan Christian Vieri, namun mereka tergagap di grup mereka, mengalahkan Ekuador, kalah dari Kroasia dan bermain imbang dengan Meksiko. Mengingat performa kedua belah pihak, serta keunggulan Korea sebagai tuan rumah, ini adalah pertandingan yang terlihat lebih seimbang daripada yang disadari oleh banyak pihak luar, namun hanya sedikit yang meramalkan apa yang akan terjadi kemudian.

Ahn Jung-hwan South Korea 2002

Golden Goal

Dalam kurun waktu lima menit di Daejeon, Ahn berkesempatan mencetak gol impiannya. Korea Selatan mendapat hadiah penalti setelah terjadi pelanggaran di tepi kotak, meski Italia mengklaim itu hanya sekadar duel biasa. Tapi usaha sang penyerang berhasil diselamatkan oleh Gianluigi Buffon.

Tiga belas menit kemudian, Vieri membawa Italia unggul, dan nampaknya mereka akan menambah skor untuk mengamankan jalan ke perempat-final. Namun, raksasa Eropa itu kesulitan untuk menemukan celah, dan wasit Byron Moreno – yang kini menjadi terpidana pengedar narkoba – membiarkan beberapa pelanggaran, termasuk yang melukai Zambrotta, tanpa adanya hukuman yang adil.

Vieri melewatkan peluang emas, Francesco Totti tidak mendapat penalti setelah terjatuh. Dan dengan dua menit tersisa waktu normal, Seol Ki-Hyeon menyamakan kedudukan, memaksakan perpanjangan waktu. Totti kembali dilanggar di dalam kotak penalti saat extra time 30 menit dimulai. Namun malah mendapat kartu kuning karena dianggap melakukan diving, yang membuahkan kartu kuning kedua hingga membuatnya dikeluarkan dari lapangan. Italia juga memiliki gol yang dianulir karena offside yang sangat tipis, dan itu bakal membuat VAR pusing di era sekarang.

Dan kemudian… Sebuah umpan silang ke dalam kotak penalti, lompatan Ahn mengalahkan Maldini, dan sundulannya bersarang ke sudut bawah. Dengan aturan Golden Goal, berarti lesakan tersebut mengakhiri pertandingan saat itu juga. Korea Selatan lolos ke perempat-final, di mana mereka sukses mengalahkan Spanyol melalui adu penalti.

Kepicikan Perugia

Sama seperti wilayah Italia lainnya, Perugia bereaksi dengan marah terhadap gol Ahn. Meskipun sebenarnya sebagian besar kemarahan dari warga itu ditujukan kepada para ofisial. Vatikan bahkan ikut terlibat dengan mengklaim bahwa telah terjadi konspirasi untuk menyingkirkan Italia dari kompetisi tersebut, menuduh kinerja wasit Moreno tidak kompeten.

Perugia menyatakan bahwa mereka akan memecat Ahn, meski secara teknis mereka tidak bisa, karena dia belum menjadi pemain mereka. Dan mereka akan melanggar peraturan FIFA jika memutuskan kontraknya. Mereka harus membelinya terlebih dahulu. Dan sementara ketua klub Luciano Gaucci bersikeras bahwa dia “tidak berniat membayar gaji kepada seseorang yang telah merusak sepakbola Italia”. Perugia mengambil opsi dalam kesepakatan Ahn dan mengontraknya secara permanen. Namun, mereka tidak berniat memainkannya.

Ahn mengungkapkan bahwa setelah turnamen, mobilnya dirusak, sementara media lokal mengklaim mafia berencana membunuhnya. Sementara itu, klub-klub di Inggris mengantre untuk mengontraknya, dan Blackburn Rovers bahkan menyetujui kesepakatan untuk merekrutnya. Namun, karena alasan remeh, Perugia menghalangi langkah tersebut, dengan alasan kewajiban kontrak. Dan menuntut biaya sebesar $3,8 juta (£3 juta) dari klub mana pun yang ingin mendapatkan tanda tangannya.

Hal ini mengakhiri impian Ahn untuk bermain di Liga Primer. Ia tetap bersikeras bahwa “hidupnya akan berbeda” jika ia diberi kesempatan untuk bermain di Inggris. Dan pada dasarnya membuatnya menjadi tahanan di Perugia. Seandainya dia diizinkan untuk pindah, dia akan menjadi pemain Korea Selatan pertama dalam sejarah Liga Primer. Kehormatan itu akhirnya diambil oleh Park Ji-sung yang memperkuat Manchester United.

Pada akhirnya, agensi hiburan Jepang membayar biaya pelepasan Ahn, dan dia bisa bergabung dengan Shimizu S-Pulse di J.League

Ahn Jung-hwan South Korea 2006

Karier Nomaden

Meskipun Ahn memenangkan J.League pada 2004 bersama Yokohama F. Marinos, dalam 11 tahun terakhir kariernya, ia bermain untuk tujuh klub, termasuk Metz di Prancis dan MSV Duisburg di Jerman. Dia mengumumkan pengunduran dirinya pada 2012 dan kemudian menjadi tokoh televisi di Korea Selatan. Ia juga terpilih membawa obor Olimpiade untuk negaranya pada 2018.

Walau ia mungkin bukan salah satu pemain Serie A yang paling berkesan sepanjang masa, Ahn mungkin mencetak gol Piala Dunia paling kontroversial di era modern. Dan sebagai hasilnya, ia menjadi ‘terkenal’ di Italia.

Namun, ia memiliki warisan yang sangat berharga, dan tidak diragukan lagi ia adalah seorang legenda Korea Selatan. Yang sukses melampaui Maldini karena mencetak gol yang mengejutkan seluruh dunia.

Sumber : goal.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *