Didukung Subsidi Pemerintah, Industri Mobil Listrik China Diperkirakan Alami Peningkatan Tahun Ini

Didukung Subsidi Pemerintah, Industri Mobil Listrik China Diperkirakan Alami Peningkatan Tahun
Didukung Subsidi Pemerintah, Industri Mobil Listrik China Diperkirakan Alami Peningkatan Tahun

Nagaliga.news – Produsen mobil listrik premium di China diperkirakan akan melihat peningkatakan pada 2024 seiring dengan membaiknya permintaan konsumen dan margin produk. Ini akan memberikan kelonggaran bagi para produsen dari perang diskon yang telah mengakibatkan jatuhnya beberapa pesaing.

APA YANG TERJADI

Pemain utama Nio, Xpeng, dan Li Auto, semuanya merasakan dampak dari penurunan harga selama tiga bulan ini, karena harga untuk 50 model dari berbagai merek turun rata-rata 10 persen. Mereka kini memperkirakan adanya lonjakan penjualan dalam tiga bulan yang berakhir pada Juni seiring dengan dimulainya subsidi pemerintah dan kembalinya konsumen ke pasar kendaraan listrik terbesar di dunia, dimana penjualan mencapai sekitar 60 persen dari total penjualan global.

Read More

“Subsidi untuk pembelian kendaraan listrik (EV) memberikan dorongan besar bagi para pemain terkemuka,” kata Phate Zhang, pendiri penyedia data mobil listrik CnEVPost yang berbasis di Shanghai.

“Ada juga spekulasi yang meningkat bahwa perang harga yang sengit akan segera berakhir, yang akan membantu mereka meningkatkan margin kendaraan.”

PENGUMUMANNYA

Beijing mengumumkan pada akhir April bahwa pembeli kendaraan listrik yang menggantikan mobil berbahan bakar bensin akan menerima subsidi sebesar 10.000 yuan (sekira Rp22 juta) dan insentif akan ditawarkan hingga akhir tahun.

Everbright Securities mengatakan dalam sebuah catatan penelitian pada Mei bahwa subsidi tersebut dapat meningkatkan penjualan kendaraan listrik sebanyak 2 juta unit pada 2024 seiring dengan percepatan laju elektrifikasi di industri otomotif China.

Subsidi China untuk pembeli kendaraan listrik, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2009, mencapai puncaknya pada tahun 2014 sebesar 100.000 yuan, sehingga mendorong peningkatan penjualan sebesar empat kali lipat.

Nio yang berbasis di Shanghai memperkirakan pengirimannya dari April hingga Juni dapat melonjak sebanyak 86,3 persen dari kuartal sebelumnya menjadi 56.000 unit; Xpeng yang berkantor pusat di Guangzhou memperkirakan penjualan kuartal kedua akan meningkat hingga 46,6 persen menjadi 32.000 unit, sementara Li Auto di Beijing memperkirakan kenaikan volume pengiriman kuartalan sebesar 27 persen, yang kemungkinan akan mencapai 110.000 unit.

POSTINGAN MEDIA

Dilansir South China Morning Post, di antara trio produsen EV itu, yang dipandang sebagai respons China terhadap Tesla. Hanya Li Auto yang mampu menghasilkan keuntungan. Namun, Nio dan Xpeng diperkirakan akan melihat peningkatan margin pada tahun ini. Didorong oleh volume penjualan yang lebih tinggi, bauran produk yang lebih baik, dan potensi aktivitas promosi yang lebih rendah.

Ketiga produsen mobil tersebut membuat mobil bertenaga baterai dengan fitur-fitur cerdas. Seperti teknologi mengemudi otonom dan sistem kontrol yang diaktifkan dengan suara.

Bulan lalu, Nio meluncurkan merek pasar massal Onvo untuk memperluas basis pelanggannya. Model Onvo pertama, kendaraan sport L60, berharga 219.900 yuan, lebih murah 30.000 yuan atau 12 persen. Dari edisi dasar Model Y buatan Shanghai Tesla.

Merek baru ini akan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas perusahaan. Ketika pengiriman bulanannya melebihi 20,000 unit, kata CEO Nio William Li pada konferensi media bulan lalu. Perusahaan berencana untuk memulai produksi massal dan pengiriman L60 ke pelanggan daratan pada September.

LEBIH LANJUT MOBIL LISTRIK CHINA

Xpeng juga berencana meluncurkan merek pasar massal yang mobilnya lebih terjangkau bagi konsumen berpenghasilan menengah dan rendah di daratan.

Sektor kendaraan listrik China, salah satu penggerak utama perekonomian, diperkirakan akan mengalami pertumbuhan penjualan sebesar 20 persen tahun ini. Dibandingkan dengan 37 persen pada 2023, menurut perkiraan Fitch Ratings pada November.

BYD, pembuat kendaraan listrik terbesar di dunia, melancarkan serangan pertama dalam perang harga pada Februari. Memangkas harga hampir semua mobilnya sebesar 5 hingga 20 persen. Untuk mempercepat transisi dari kendaraan berbahan bakar bensin ke mobil listrik di daratan.

Sejak itu, harga 50 model di berbagai merek telah turun rata-rata 10 persen, menurut laporan dari Goldman Sachs bulan lalu.

Pemotongan harga lain sebesar 10.300 yuan per kendaraan oleh BYD, atau 7 persen dari harga jual rata-rata perusahaan. Dapat menyebabkan industri kendaraan listrik di negara tersebut mengalami kerugian, tambah bank Amerika Serikat (AS) tersebut.

Sumber : okezone.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *